Di bawah rindangnya pohon Hutan Kota Srengseng, Jakarta Barat, seorang pria paruh baya duduk santai beralaskan banner bekas di atas trotoar. Di depannya, ratusan batu akik dipajang, berharap dipinang orang yang lewat.
Tangannya lincah mengangkat satu per satu batu, menyorotkannya ke cahaya, lalu menunjukkan warna dan serat di dalamnya.
Pria itu adalah Babeh Icam, pedagang batu akik yang masih bertahan berjualan di tengah meredupnya tren yang dulu sempat mengguncang berbagai daerah.
“Nih kalau mau mainnya ni, kalau disenter, ungu. Cubung Ulung. Dikecilin segini aja bagus nih,” ucap Babeh Icam memperlihatkan salah satu koleksinya, Sabtu (31/1).
Bagi Babeh Icam, batu bukan sekadar dagangan. Ia sudah menekuni dunia batu cincin sejak era 1990-an, jauh sebelum batu akik menyebabkan demam nasional.
“Kalau dagang di sini tiga tahun, tapi kalau soal batu mah sudah dari tahun 90-an," ucapnya.
Kecintaannya lahir dari hobi. Ia menikmati proses melihat karakter batu, warna, hingga aura yang dirasakan pemakainya.
“Sudah hobi. Dasarnya emang sudah hobi. Dari tahun 90-an kita sudah senang. Nah pas booming kita dagang dah tuh,” jelas dia.
Ia masih ingat betul masa emas itu. Tahun 2013 menjadi puncak kejayaan batu akik, ketika orang dari berbagai kalangan berburu batu hingga ke pelosok daerah.
“Tahun 2013. Pas lagi naik-naiknya ya, 2013,” ujarnya
Namun tren itu tak bertahan selamanya. Setelah pandemi, pembeli mulai menyusut.
“2021 sudah mulai berkurang dah tuh. Pas habis covid tuh,” ujarnya
Meski begitu, Babeh Icam tidak benar-benar berhenti. Ia sempat lama berdagang di Tanah Abang sebelum akhirnya memilih Hutan Kota Srengseng karena suasananya lebih santai, ditambah adiknya tinggal tak jauh dari lokasi.
“Ya karena di sini kan lebih nyantai. Terus adik kan di sini kebetulan tinggal, dekat," ujarnya.
Dagangan yang ia bawa beragam: Bacan, Pirus, Mirah Siam, Mirah Ruby, hingga batu khas seperti Combong. Harga pun menyesuaikan kantong pengunjung taman.
“Harga-harga Rp 750 (ribu), Rp 1 juta. Kalau ini baru batu yang ya Rp 50-ribuan dah,” ujarnya
Namun ia mengakui, perbandingan harga masa keemasan dulu dan sekarang sudah sangat jauh berbeda.
“Waktu booming buset ke ujung beruk, ujung gunung. Waktu booming wah edan dah batu. Nah sekarang paling orang-orang yang dasarnya emang ada hobi,” ungkapnya.

4 days ago
23








English (US) ·