Ekonom: Persepsi pasar soal kebijakan BI kunci jaga stabilitas rupiah

1 week ago 7

Jakarta (ANTARA) - Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengingatkan bahwa persepsi pasar terhadap arah kebijakan Bank Indonesia (BI) ke depan menjadi faktor krusial di tengah tren pelemahan nilai tukar rupiah.

Salah satu risiko utama yang perlu diantisipasi adalah stabilitas fiskal serta independensi kebijakan moneter.

"Tren rupiah melemah sudah terjadi sejak tahun ini dan berpotensi semakin memburuk di bulan-bulan mendatang. Faktor paling krusial yang perlu diantisipasi adalah stabilitas fiskal dan kebijakan moneter yang semakin didominasi oleh kepentingan fiskal (fiscal dominance)," ujar Wijayanto kepada ANTARA dikutip di Jakarta, Selasa.

Terkait Deputi Gubernur BI yang baru terpilih yakni Thomas Djiwandono, Wijayanto menilai Thomas harus membuktikan kapasitasnya dan mengelola dengan baik sentimen yang hadir di pasar agar tidak berdampak pada persepsi institusi BI.

"Sifat sentimen yang muncul menurut hemat saya temporer saja. Ia (Thomas) harus membuktikan kapasitasnya, dan memastikan kehadirannya tidak semakin memperburuk imej BI terkait independensi," jelasnya.

Ia turut mengingatkan agar pelemahan rupiah tidak dilihat secara sempit hanya dari perbandingan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pasalnya, dolar AS sendiri tengah melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia.

Sebagai gambaran, Wijayanto menyebut dolar AS melemah hampir 10 persen dalam satu tahun terakhir terhadap tujuh mata uang utama dunia.

"Jika IDR (rupiah) dibandingkan dengan basket currency (dolar AS) tersebut, depresiasi akan mencapai hampir 14 persen, tentunya ini kondisi yang tidak boleh dianggap enteng," tambahnya.

Baca juga: Komisi XI nilai pengalaman fiskal bisa lengkapi kapasitas Thomas di BI

Baca juga: Purbaya harap Thomas bisa mempertimbangkan fiskal di kebijakan moneter

Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Selasa, bergerak menguat 2 poin atau 0,01 persen menjadi Rp16.780 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.782 per dolar AS.

Pada penutupan Senin sore, rupiah juga bergerak menguat 38 poin atau 0,23 persen menjadi Rp16.782 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.820 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menganggap penguatan ini dipengaruhi respons positif pasar terhadap komitmen Bank Indonesia (BI) dana menjaga stabilitas rupiah.

“Pasar mendukung komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah yang memberikan sentimen positif, dengan melakukan intervensi dalam jumlah besar melalui pasar offshore NDF, DNDF (domestic non-delivery forward), serta pasar spot,” katanya.

Baca juga: Thomas usul sinergi fiskal--moneter baru, bukan lagi "burden sharing"

Baca juga: Profil Thomas Djiwandono, Wamenkeu yang kini jadi Deputi Gubernur BI

Baca juga: Komisi XI DPR RI setujui Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI

Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Indra Arief Pribadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article