Jakarta (ANTARA) - Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono menyatakan bahwa Indonesia siap untuk memfasilitasi dialog inklusif dengan seluruh pihak terkait di Myanmar guna menciptakan perdamaian, stabilitas, dan kesejahteraan di kawasan ASEAN.
“Indonesia juga terbuka untuk menawarkan dukungan praktis, termasuk berbagi pengalaman berharga kami dalam pembangunan bangsa, proses rekonsiliasi, dan penyelenggaraan otonomi daerah,” kata Sugiono, menurut keterangan tertulis Kementerian Luar Negeri RI di Jakarta, Kamis.
Sugiono menyampaikan hal tersebut dalam Extended Informal Consultation on the Implementation of the Five-Point Consensus yang merupakan bagian dari rangkaian Pertemuan Tingkat Menteri Luar Negeri (AMM) Retreat ASEAN di Cebu, Filipina pada 28 Januari.
Menlu RI juga berharap agar ASEAN dapat terus terlibat secara konstruktif dan konsisten dalam mendukung proses perdamaian di Myanmar.
Dia menilai bahwa situasi di Myanmar menjadi ujian bagi ketangguhan dan kredibilitas ASEAN, dan menegaskan kunjungan utusan khusus ke Myanmar mencerminkan komitmen ASEAN agar proses rekonsiliasi tetap menjadi prioritas utama.
Indonesia juga menyampaikan apresiasi khusus terhadap upaya Menteri Luar Negeri Filipina yang telah melakukan dengan berbagai pihak di Myanmar, sebuah langkah yang dinilai sebagai kontribusi nyata yang relevan.
Ke depannya, Indonesia menilai bahwa langkah terukur dan inovatif diperlukan untuk menciptakan stabilitas yang berkelanjutan dan inklusif, sekaligus membangun dasar yang kuat bagi proses pembangunan bangsa Myanmar.
Dalam pertemuan AMM Retreat itu, Menteri Luar Negeri Filipina Theresa Lazzaro selaku Utusan Khusus Ketua ASEAN untuk Myanmar memberikan arahan terkait perkembangan terkini situasi di Myanmar.
Pertemuan tersebut membahas secara mendalam implementasi Konsensus Lima Poin (5PC) serta prioritas kerja ASEAN ke depan dalam upaya penyelesaian krisis Myanmar.
Pada 25 Januari, Myanmar baru menyelesaikan proses pemungutan suara yang memasuki tahap ketiga dalam pemilu pertama sejak kudeta militer pada 2021.
Pemilu kali ini menentukan anggota legislatif Parlemen Myanmar untuk majelis rendah dan majelis tinggi, serta badan legislatif tingkat daerah. Setelah dilantik, anggota parlemen akan memilih presiden Myanmar yang akan membentuk pemerintahan baru.
Baca juga: Myanmar rampungkan pemilu, junta tak pedulikan penolakan internasional
Baca juga: China nilai pemilu di Myanmar tunjukkan partisipasi aktif publik
Pewarta: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.









English (US) ·