Banyak yang beranggapan bahwa metafora sebagai fungsi kiasan bahasa, tak ubahnya sebagai keajegan fungsi dalam estetika. Melihat runutan sejarah terutama teks-teks sastra sekarang, metafora sering dijadikan senjata dalam retorika. Dunia kita berputar dibawah sebaran tanda yang memuat makna-makna yang tak terbatas, dan makna-makna tersebut saling berkorelasi bergantung pada klasifikasi medan makna atas dasar pengaruh kognitif dan juga konteks kebudayaan.
Begitupun dengan metafora, banyak orang beranggapan bahwa metafora hanyalah bunga-bunga bahasa yang digunakan oleh penyair atau politisi untuk memperindah kalimat mereka agar terdengar puitis. Pandangan umum ini telah dibantah secara tegas oleh George Lakoff dan Mark Johnson dalam karya mereka yang fenomenal karena mereka membuktikan betapa kuatnya meresap dalam kehidupan sehari-hari kita. Sistem konseptual manusia yang mengatur cara kita berpikir dan bertindak pada dasarnya bersifat metaforis sehingga mustahil bagi kita untuk memisahkan pikiran dari metafora.
Mekanisme Pemetaan Makna
Mereka menyajikan sebuah kerangka metafora kognitif sebagai mekanisme fundamental yang memungkinkan manusia memahami pengalaman abstrak melalui hal-hal yang lebih konkret dan dekat dengan pengalaman fisik tubuh kita. Gagasan utama dari teori ini adalah adanya proses kognitif yang disebut pemetaan antara dua ranah konseptual yang berbeda yaitu ranah sumber dan ranah sasaran. Ranah sumber biasanya bersifat konkret dan berkaitan langsung dengan pengalaman fisik manusia, sedangkan ranah sasaran bersifat abstrak dan sulit digambarkan secara langsung.
Misalkan, ketika kita berbicara tentang konsep abstrak seperti "keputusasaan" , kita sering meminjam konsep dari ranah "perjalanan" untuk mengemasnya kembali dalam "entah kenapa segala perjuanganku selalu berakhir dengan jalan buntu" atau "persetan seberapa jauh aku telah melangkah". Hal ini terjadi karena otak kita membutuhkan kerangka acuan yang nyata agar dapat memproses konsep abstrak tersebut secara logis. Dengan demikian metafora memungkinkan kita untuk mentransfer struktur pengetahuan dari pengalaman fisik yang sederhana ke dalam pengalaman emosional atau intelektual yang jauh lebih rumit.
Ragam Jenis Metafora dalam Kognisi
Para ahli bahasa mengklasifikasikan metafora kognitif ke dalam tiga kategori utama yaitu metafora struktural, metafora orientasional, dan metafora ontologis. Metafora struktural terjadi ketika satu konsep disusun secara metaforis dalam kerangka konsep lain seperti contoh "Argument is War" yang menavigasikan argumen yang dilontarkan dalam sebuah perdebatan berfungsi layaknya hunjaman anak panah untuk menumpas habis ide lawan.
Selain itu terdapat metafora orientasional memberikan orientasi spasial atau properti ruangan pada sebuah konsep yang berkaitan dengan kondisi fisik manusia. Contoh paling umum adalah "Bahagia itu Atas" dan "Sedih itu Bawah" yang muncul karena postur fisik manusia cenderung tegak saat senang dan menunduk saat sedih sehingga melahirkan ungkapan seperti "moodnya sedang naik" atau "saat ini ia jatuh miskin".
Kategori ketiga adalah metafora ontologis yang memungkinkan kita memandang kejadian, aktivitas, emosi, atau ide sebagai suatu entitas atau zat fisik yang berwujud. Cara pandang ini memungkinkan kita untuk merujuk, mengukur, dan mengidentifikasi penyebab dari hal-hal yang abstrak tersebut. Sebagai contoh dalam korpus bahasa Indonesia ditemukan penggunaan ungkapan "besar hati" atau "kecil hati" yang memperlakukan perasaan (hati) seolah-olah memiliki ukuran fisik tertentu yang dapat membesar atau mengecil. Selain itu kita sering dengar bentuk metafora ontologis dalam ungkapan "sakit hati" di mana emosi abstrak dipahami sebagai cedera fisik yang nyata sehingga memudahkan manusia untuk menjelaskan rasa sakit emosional yang dialaminya.
Konteks Budaya
Setiap metafora memiliki karakteristik unik yaitu kemampuan untuk menyoroti aspek tertentu dari sebuah konsep sambil menyembunyikan aspek lainnya secara bersamaan. Misalkan dalam metafora Waktu adalah Uang, dimana begitu dominan dalam budaya Barat modern, porsi waktu dipandang sebagai nilai tukar berharga yang bisa "dihabiskan" atau "dihemat" bahkan "dibuang". Tapi secara tidak sadar, kita terkecoh oleh pemahaman ideologis bahwa waktu yang bermanfaat harus dipergunakan dengan baik layaknya uang yang harus dialokasikan sesuai porsi kebutuhan yang sesuai, dan ini mengakibatkan kita sering lupa bahwa waktu sejatinya bukan termasuk objek materiil. Sekurang-kurangnya, fungsi ideologis dalam metafora terutama dalam budaya hegemoni barat, sering dijadikan taraf ukur yang dianggap lumrah.
Tangan yang diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah juga merupakan perumpamaan kultural yang paling sering dijumpai untuk menguraikan sistem hirarki sosial, dan ini juga bersinggungan dengan konsep bahwa Lebih Banyak Itu Lebih Baik yang juga sangat koheren dengan metafora Lebih= atas dan Baik= atas dalam masyarakat materialis dan kapitalis. Dengan memodifikasi logika dasar kemudian merangkai premis yang menggeneralisir, hasilnya bisa kita saksikan dengan banyaknya pepatah yang sudah akrab disekeliling kita, meskipun timbul potensi persengketaan makna dalam skala yang lebih menyempit tentunya.

8 hours ago
5








English (US) ·