Menelusuri evolusi sungai dari bumi purba hingga sumber bencana

2 weeks ago 15
Bukan sungainya yang salah, melainkan cara kita memperlakukannya

Jakarta (ANTARA) - Sungai kerap dituding sebagai biang keladi bencana banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025.

Ini terjadi ketika tubuh Batang Anai, Batang Kuranji, Batang Toru, dan Krueng Meureudu tidak sanggup lagi menampung derasnya butiran hujan yang turun. Aliran airnya pun berubah menjadi bah yang meluap ke segala arah dan menyapu apapun yang dilewatinya.

Jalan penghubung Kota Padang dan Padang Panjang putus total setelah ditimbuni material longsor. Pada saat bersamaan, derasnya aliran air Batang Anai menggerus dinding pembatas dan badan jalan. Aliran Batang Anai pun bergeser menjauhi sisi jalan raya.

Sungai adalah salah satu saksi tertua sejarah Bumi ini. Jauh sebelum manusia mengenal peradaban, bahkan sebelum hutan tropis tumbuh lebat, air telah lebih dulu mengalir, mengikis bebatuan, untuk akhirnya membentuk wajah daratan.

Evolusi sungai adalah kisah panjang tentang perubahan iklim, aktivitas tektonik dan vulkanis, munculnya kehidupan, hingga campur tangan manusia.

Mari menelusuri seluk beluk sungai, bentang alam yang kerap luput dari perhatian saat keadaan tentram dan damai. Tetapi kala bencana menghampiri dengan tiba-tiba, sungai dituding sebagai pihak yang harus bertanggung jawab. Malangnya nasibmu sungai.

Dunia tanpa sungai

Sekitar 4,6 miliar tahun lalu, ketika Bumi baru terbentuk, permukaannya masih sangat panas dan penuh aktivitas vulkanis. Atmosfer purba dipenuhi asap, kaya uap air, karbon dioksida, dan gas-gas beracun seperti hydrogen sulfida, karbon monoksida.

Ketika suhu mulai turun, uap air mengembun menjadi hujan pertama di planet ini sekitar 4 miliar-3,8 miliar tahun lalu. Air tersebut mengisi cekungan-cekungan besar dan membentuk samudra purba.

Saat itu sungai belum ada seperti yang kita kenal sekarang. Daratan masih sangat terbatas dan belum stabil. Hujan turun langsung ke cekungan atau laut tanpa membentuk saluran permanen. Bumi masih dalam fase “eksperimen” geomorfologi.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article