Renungan Awal Pekan (1)

1 week ago 28
 Dokumentasi PribadiMenjelang pagi di tol Cipularang. Photo: Dokumentasi Pribadi

Minggu sore bukan sekadar senja menjelang malam bagi kaum pekerja di perkotaan. Namun memiliki makna yang dalam karena menyadari bahwa betapa dekatnya mereka dengan Senin awal pekan yang mengaum di depan mereka.

Membayangkan hari-hari yang akan dilalui dengan deadline pekerjaan, ocehan bos, gunjingan rekan sejawat, serta wajah-wajah bermuka dua, maka hari-hari selanjutnya adalah vonis.

Sejak kerja dipersepsikan sebagai rutinitas Senin ke Jum'at dengan waktu jam delapan pagi sampai jam lima petang, maka minggu sore seakan momok memasuki gerbang pertaruhan lima hari kerja.

Mungkin tidak semua namun hampir mayoritas memaknai pekerjaan sebagai hukuman eksistensial manusia, membosankan, dan hidup yang sangat mekanik. Manusia modern seakan bagian dari fungsi pabrik yang harus terus berputar.

Kaum Pekerja seakan masih membawa penat dari pekan sebelumnya dan belum luruh segala masalah, pekan yang baru tiba begitu cepat. Weekend hanyalah persinggahan waktu untuk kembali menjalani hari-hari yang membosankan.

Datang di Jum'at menjelang malam menawarkan angan-angan membahagiakan, meski pada akhirnya dijadikan waktu rebahan dengan handphone yang tak pernah lepas dari genggaman.

Hidup memang seringkali melahirkan paradoksal atau manusia saja yang tidak mampu menenun makna dari perjalanan hidup namun yang pasti, pilihan-pilihan hidup ada dalam keputusan manusia.

Manusia modern adalah mereka yang dengan serangkaian persoalan diri, kelelahan eksistensial, bertarung dengan pikiran-pikiran yang setiap saat bergerak begitu cepat, mengumpulkan uang selama sebulan lalu menghabiskannya hanya untuk keinginan artisial.

Pernahkah kita berusaha menjauh dari kerumunan, memilih kedai kopi yang tidak populer kemudian memikirkan bahwa apakah semua ini sesuatu yang given?

Rutinitas kerja ala karyawan, buruh, dan pekerjaan yang ditentukan jadwalnya bukan kondisi yang alamiah, namun lahir dari proyeksi manusia akan apa yang mereka percayai sebagai dunia modern.

Jauh sebelum mesin-mesin ditemukan, sebelum pabrik didirikan, manusia bekerja dengan kebebasan dan merupakan tindakan manusia yang eksistensial karena mengandung nilai rasional, universal dan otonom.

Manusia sebelum lahirnya mesin-mesin adalah manusia otonom dengna dirinya. Mereka bekerja sesuai kebutuhan tanpa harus diatur dari berbagai hal mulai dari ujung rambut sampai sepatu.

Rambut harus disisir belah pinggir, kemeja licin dengan aroma parfum murahan, stelan celana, serta sepatu fantopel yang mengkilat.

Untuk apa semua itu?

Kerja bukan keadaan yang dipaksakan, sebagaimana yang digambarkan dengan sangat presisi oleh Seno Gumira Ajidarma dalam puisinya berjudul Menjadi Tua di Jakarta:

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”

Jakarta adalah metaforik dari ruang yang memenjarakan manusia modern dalam sistem yang disebut sebagai pekerjaan. Manusia tidak lagi dinilai dari kemanusiaannya tetapi seberapa banyak produk yang mereka hasilkan untuk bahan bakar sistem.

Kerja bukan lagi menjadi aktivitas sadar dan produktif yang lahir dari setiap individu, tetapi kerja menjadi rumah pasung bagi jiwa-jiwa yang sedang menderita kecemasan, butuh validasi, ketakutan tidak mampu membayar cicilan mobil, cemas tidak bisa membayar paylater, tidak mampu membeli kopi susu aren, dan rangkaian penyakit eksistensial manusia modern.

Tidak ada yang salah menjadi kaum pekerja di kota besar, bergumul dengan absurditas kehidupan, namun sejauh mana manusia mampu memberi makna pada setiap yang mereka jalani.

Menyadari bahwa ada tanggung jawab yang jauh lebih besar dari sekadar membiarkan kebebasan yang ada dipikir menjustifikasi untuk lari dari realitas kehidupan.

***

Lebih dari tiga tahun terakhir, rutinitas awal pekan yang kujalani sedikit lebih berat. Harus bangun menjelang waktu Subuh, mempersiapkan segala sesuatu kemudian berangkat ke pool travel untuk melanjutkan perjalanan ke Bandung.

Rutinitas yang aku sendiri sama sekali belum mampu memprediksi akan sampai kapan, tentang jalan panjang yang masih belum terlihat tempat pemberhentiannya.

Pada akhirnya, semua manusia memiliki strategi untuk survive dan memeluk setiap kekhawatiran karena setiap dari kita memiliki ritme kehidupannya masing-masing.

Perubahan rasa dalam diri bukan kesalahan tetapi hal yang manusia, kadang merasa begitu semangat menghadapi pekan yang baru, namun di lain waktu, merasa begitu tidak memiliki energi untuk hanya sekadar memandangi tumpukan dokumen di atas meja kerja.

Satu hal yang pasti bahwa kita tidak bisa menghilangkan semua itu, yang bisa kita lakukan hanyalah bergerak selangkah demi selangkah untuk menuntaskan perjalanan.

Toh jika kita memilih mundur, maka jalan yang akan ditempuh ke belakang bahkan lebih melelahkan. Berhenti atau bahkan mundur adalah keputusan untuk menjadi manusia yang kerdil.

Aku, beberapa kali mungkin ikut arus, mempertanyakan apa yang sedang kujalani, namun dalam beberapa kali kesempatan, aku berusaha untuk menyadari bahwa apa yang ada di pikiran bukanlah realitas tetapi ketakutan-ketakutan yang ilusif.

Maka seringkali aku berusaha memulai awal pekan dengan sedikit harapan-harapan kecil. Asa yang barangkali membawa tawa di akhir pekan selanjutnya sambil pulang ke rumah, mencium kening istri dan mendekap anak-anak dengan begitu erat.

Read Entire Article