Pemerintah Singapura tengah menyiapkan regulasi khusus untuk mengendalikan penjualan produk blind box atau kotak misteri, menyusul kekhawatiran praktik pemasaran produk tersebut yang mendorong perilaku mirip perjudian.
Blind box merupakan produk ritel—umumnya mainan atau barang koleksi—yang dijual dalam kemasan tertutup tanpa mengungkap isi di dalamnya hingga setelah dibeli. Konsumen membayar untuk kesempatan mendapatkan item tertentu, termasuk versi langka yang bernilai tinggi. Para pembela konsumen dan pembuat kebijakan telah menyuarakan kekhawatiran mereka dan menyebut skema itu menyerupai perjudian.
Dilansir AFP, Menteri Dalam Negeri Singapura K. Shanmugam menegaskan pihaknya sedang merancang undang-undang yang akan mewajibkan penjual mengungkapkan peluang atau probabilitas memperoleh barang tertentu secara jelas dan terstandarisasi.
“Peraturan sedang dirancang,” tegas dia dalam keterangan tertulis pada Kamis (12/2).
Menteri Koordinator Keamanan Nasional itu menyebut usulan pengaturan probabilitas tersebut berasal dari anggota parlemen.
“Rekan-rekan sesama anggota parlemen menyarankan untuk memiliki pengungkapan peluang dan probabilitas yang wajib dan terstandarisasi. Itu akan menjadi salah satu poin yang akan dipertimbangkan untuk peraturan tersebut," tambah Shanmugam.
Model ini telah membuat penjualan produsen mainan asal Tiongkok, Pop Mart melambung. Diketahui dari situsnya, Pop Mart memiliki enam gerai di Singapura.
Popularitas blind box juga meluas ke ranah digital melalui mekanisme “gacha” dalam game online dan aplikasi seluler, yang sama-sama mengandalkan sistem hadiah acak.
Meski digandrungi kolektor, regulator, dan kritikus, semakin memandang praktik ini sebagai taktik predator yang berisiko, terutama bagi anak di bawah umur yang lebih rentan terhadap dorongan impulsif belanja dan perjudian berdasarkan peluang menang.
Pop Mart belum memberikan tanggapan kepada AFP mengenai hal ini.

12 hours ago
8








English (US) ·